Skip to main content

Ketika Menasihati dan Menyindir Nggak Ada Bedanya

Udah lama juga gue nggak ngebahas sesuatu yang serius. Asli, banyak banget sebenernya yang mau gue omongin dan topik ini sebenernya juga udah lama mau gue bahas tapi baru ada waktu sekarang. Sibuk menghabiskan waktu luang dengan nonton drakor alias drama korea. Ya begini nasib jadi korban ­oppa-oppa drakor.

By the way, seperti yang pernah gue bilang di postingan sebelumnya kalau di sini murni pendapat gue dan murni keluh kesah gue, ya. Dan nggak bermaksud sama sekali untuk menghakimi. Gue berusaha untuk menilai segala sesuatu secara objektif.

Ah iya! Ngomongin drakor nih.. gue cukup seriiing banget baca caption di instagram yang berkaitan dengan drakor. Bukan tentang pemain-pemainnya dan bukan dari akun-akun khusus drakor. Tapi.. dari akun-akun yang berkaitan erat dengan Islam. Gue nggak perlu sebutin nama-namanya tapi pasti kalian tau. Di salah satu foto yang mereka posting, mereka menuliskan betapa ruginya kalau kita nonton drama korea. Maksudnya, nggak ada gunanya. Menurut mereka, nonton drakor cuma bisa nambah dosa karena drakor sendiri merupakan racun keimanan katanya yang ngebuat kita jadi sering mengkhayal, ngebuat kita lupa waktu apalagi lupa shalat, lupa makan, dan segala-galanya. Jujur, gue sangat amat nggak suka dengan cara mereka giving advice. Bukan karena gue suka nonton drakor jadi gue langsung nggak suka. Bukan. Tapi menurut gue, nonton drama korea nggak bisa langsung dicap buruk. Kenapa? Karena semuanya bergantung pada tujuan kenapa kita melakukan itu. Bagaimana dengan mereka yang kuliah jurusan sastra terlebih Sastra Korea? Atau Bahasa dan Kebudayaan Korea atau bahkan Pendidikan Bahasa Korea? Hal itu termasuk wajar, bukan? Dan bagaimana dengan mereka yang melakukan itu hanya untuk melepas penat? Bagaimana dengan mereka yang kepo tentang negara Korea? Apakah bisa langsung dicap buruk? Nggak. Bisa dicap buruk jika memang hal itu ngebuat mereka bener-bener lupa waktu. Lupa waktu shalat, makan, mandi, atau salah prioritasnya. Tapi kalau mereka bisa nge-handle semuanya ya sama sekali nggak masalah. Untuk gue pribadi, gue nonton drakor karena memang ada waktu luang untuk itu dan emang kepo sama Korea terutama bahasanya. Dan kalau gue nonton yang genrenya crime, detektif gitu bikin otak gue jalan dan kekepoan gue tentang teknologi di sana makin bertambah.

“Waktu luang itu kan bisa lo gunain untuk hal lain yang lebih berfaedah!”

Yap. Pernyataan itu sama sekali nggak salah. Bener banget. Tapi, teman-teman, kalian juga harus tau semua orang punya keputusannya masing-masing. Mau mereka gunakan untuk apa waktu luang mereka. Ntah nonton drakor, baca buku, berolahraga, atau apapun itu. Biarlah itu menjadi urusan dia. Selagi nggak merugikan orang lain kenapa harus repot-repot, sih?

Terus juga, mereka bilang kalau mengoleksi drakor juga nggak ada untungnya. Menurut gue, salah besar. Kalau bisa liat keadaan sekitar, ngoleksi drakor bisa dijadiin ladang bisnis. Jasa isi drakor. Lumayan kan untuk anak kuliahan atau SMA yang mau nyari duit jajan tambahan?
Oke, balik ke topik awal. Selain akun-akun tersebut, orang-orang yang meninggalkan jejak di kolom komentar ada yang bilang gini:

“Iya tuh setuju! Lagian ngapain sih muka plastik disukain?”

Begini, lho ya.. setiap negara itu kan punya budaya, adat, kebiasaan, aturannya masing-masing, kan? Di sana nggak masalah kalau melakukan operasi plastik dan kalau di sini akan menjadi sangat kontroversial. Indonesia dan Korea Selatan adalah dua negara yang memiliki banyak perbedaan dan begitu juga dengan negara-negara yang lain. Lagian menurut gue (lagi), mau mereka oplas ataupun nggak, itu sama sekali bukan masalah selagi dari artis-artis Korea tersebut ada hal baik yang bisa kita contoh. Bukannya itu memang kewajiban kita mencontoh hal yang baik dari orang lain dan membuang yang buruk? Mereka oplas dengan duit mereka, dengan keputusan mereka sendiri, dan udah seharusnya kita nggak ikut campur. Mengurusi urusan orang lain jangan dijadiin hobi karena itu sangat mengganggu, lho.

Terus, ini yang paling penting, sih. Username mereka dan tema dari akun mereka sendiri yang membawa nama Islam atau hal yang berkaitan dengan Islam. Seperti yang gue katakan sebelumnya bahwa yang gue nggak suka adalah cara mereka “menasihati” kami (yang menyukai drakor atau K-Pop) yang terkesan seperti menyindir. Seolah-olah, kedua hal tersebut nggak ada bedanya. Padahal salah satu hal yang gue sukai dari agama gue sendiri adalah cara menasihati orang yang salah. Islam mempunyai cara yang sangat indah dan elegan dalam hal saling menasihati satu sama lain dalam hal kebaikan, kan? Tapi cara yang mereka tunjukan bukan cara yang seharusnya, justru sebaliknya.

Gue bilang begini bukan berarti mereka menggunakan kata-kata yang kasar, ya. Nggak. Tapi dari yang gue perhatikan, mereka lebih terkesan menyindir bahkan menjatuhkan pihak tertentu dibandingkan menasihati.

Oh iya, selain masalah drakor, ada lagi. Masalah pacaran. Gue mengerti betul bahkan paham kalau pacaran memang nggak ada anjurannya dalam agama gue. Tapi, gue pun nggak suka saat mereka (akun-akun itu) “menasihati” orang yang pacaran dengan cara yang gue nggak suka itu. Jatohnya kaya bener-bener menjatuhkan mereka yang pacaran. Contohnya gini:
source: google.com

source: google.com

Menurut gue, gue yakin banyak dari mereka (yang pacaran) justru malah ilfeel karena cara si akun-akun tersebut “menasihati” mereka.

Oke, satu lagi. Selain masalah pacaran adalah masalah kewajiban kaum hawa menutup auratnya. Contohnya berkerudung. Di agama kami, hal itu sangat wajib apalagi bagi mereka yang udah baligh. Tapi nih, lagi-lagi, akun-akun yang gue singgung tersebut sering banget posting foto tulisan yang mereka pikir nasihat tapi jatohnya nyindir dan menjatuhkan perempuan-perempuan yang belum berkerudung. Contohnya gini:

source: google.com


source: google.com

Pemilihan bahasanya kurang bijak menurut gue. Nggak ada unsur menasihati sama sekali. Jatohnya mereka kaya bener-bener maksa. Walaupun wajib tapi kan nggak harus dipaksa, kan? Pelan-pelan tapi pasti. Dan menurut gue, secara nggak langsung, mereka malah ngebuat orang-orang berpikiran negatif terhadap mereka sendiri karena penyalahgunaan bahasa yang mereka tampilkan. Karena dari username mereka sendiri itu seolah-olah akun tersebut kedamaian tapi ternyata sebaliknya.

Dan lagi-lagi gue tegasin, kita itu nggak tau apa yang betul-betul dialami oleh orang lain. We will never understand others  100%. We just know them about 50% or maybe less than 50%. Dan satu-satunya yang berhak menilai kita dari ujung rambut sampe ujung kaki bahkan sampe ke dalem-dalemnya kita, ke pelosok-pelosoknya kita ya cuma Tuhan kita masing-masing. Menilai orang boleh, tapi jangan berlebihan. Tugas Tuhan jangan dijadiin tugas kita juga.

Sekian. 

Comments

Popular posts from this blog

Review Jurusan Ilmu Komunikasi

Hallo, kembali lagi bersama gue, Pina. Remaja 16 tahun yang mencari jati diri tapi gak ketemu-ketemu. Jadi disini, gue bakal mereview jurusan Ilmu Komunikasi. Artikelnya cocok banget, nih, buat kelas 12 yang pengen banget masuk jurusan ini. Tau, gak? Jurusan ini banyak banget diminati! Tapi mungkin tidak di sekolah gue. Sampe sekarang gue gak tahu kenapa sedikiiit banget orang yang ngincer jurusan ini. Ya.. gue sih seneng-seneng aja ya, kan jadi dikit sainganya, HA! Paling-paling yang diminati itu ya FEB, Sasing, ya gitu dah. Seberapa terpencilnya sih jurusan ini? Eh iya, btw gak setiap universitas yang menjadikan Ilmu Komunikasi ini sebagai salah satu jurusan di FISIP. Tapi, ada yang menjadikannya sebagai fakultas. Yap, salah satunya UNPAD. Jadi namanya FIKOM. Dan ya.. FIKOM UNPAD emang favorit dari tahun ke tahun. Ampe minder gue daftarnya.  Nah, untuk kalian yang demen ngoceh, nulis, promosi, atau bahkan nonton film, mungkin jurusan ini adalah yang tepat untuk kalian.  J...

Rezeki Nggak Kemana

Seperti yang kalian (kelas XII) tau, kalau tanggal 26 April kemarin adalah (mungkin) masa di mana pertama kalinya kalian merasa deg-degan pake banget, panik, galau, apapun itu. Karena apa? Karena itu adalah penentu kalian akan melanjutkan studi ke mana dan karena itu pengumuman jalur pertama masuk PTN. Yap, we called it SNMPTN. Pukul 14:00 WIB semua orang sibuk mau membuka website pengumuman. Ada yang nggak sabaran makanya langsung buka web-nya, ada yang nunggu beberapa menit dulu karena tau pasti banyak yang buka (webnya), ada juga yang sengaja ngulur-ngulur waktu sampe sejam atau dua jam buat buka webnya. Contohnya gue, gue sengaja ngelakuin itu karena yang pertama, gue tau kalau server- nya bakalan down walaupun udah nunggu beberapa menit. Kedua, karena gue pengin ketawa dulu. Mungkin alasan yang kedua ini terdengar sangat konyol, tapi bagi gue ini penting supaya saat gue buka pengumuman, gue dalam keadaan senang no matter what happened . Alhamdulillah nya, ada beberapa temen yang...

Pelecehan yang Disepelekan

Hallo, semua! Udah lama banget, ya, gue nggak nge-blog. Alasannya ... klasik, sih. Males, nggak ada ide, dan nggak ada waktu (buat nge-blog), ya seperti itulah. By the way , kemarin-kemarin kan gue ngebahas tentang tips, review jurusan, sama cerita. Nah, untuk kali ini gue mencoba untuk beropini, nih. Tentang ... pelecehan! Berat, kan? Tumben-tumbenan gue bahas beginian. Terus terang, kejadian yang tadi sore (Kamis, 2 Februari 2017) gue alami membuat gue tergerak untuk nge-blog dengan tema ini. Karena, gue udah merasa sangat dongkol, keki, sebel, gedek sama hal yang satu ini, jadi gue mencoba untuk mengutarakan pendapat gue. So , silakan baca baik-baik, and here you go ! Sebelumnya, untuk kalian cewek-cewek, suka nggak sih merasa risih kalau kalian lewat dan di-suit-suit-in? I know that most of you, feel what I feel . Kalian tau nggak itu namanya apa? Cat-Calling ! “Hah? Panggilan kucing? Kucing panggilan?” Bukan. Cat-calling di sini bermakna konotasi, ya, teman-teman. Tapi, sebe...