Skip to main content

Curhatan Seorang Maru Versi Gue Part 1: Semua karena Petunjuk

Hei, fellas! How’s your day?

It’s been a long time since the change of my status—from a Senior High School student to a university student, right? Kali ini, gue ingin berbagi cerita gimana rasanya jadi seorang maru di jurusan Akuntansi. Tapi, gue nggak langsung menceritakan gimana rasanya menjadi maru, melainkan dimulai dari gimana akhirnya gue bisa nyemplung di jurusan yang most-wanted ini.  Oh iya, “curhatan” gue ini bakalan panjang banget, jadi bakal dibagi dua (atau bahkan tiga?) part. So, bear with me, fellas.

First, I have to tell you that I’m a person that doesn’t like these complicated things such as economics, politics, mathematics, etc. So at that time, I decided to choose foreign language as my major to be. Awalnya, bukan jurusan bahasa asing yang mau gue ambil, tapi Ilmu Komunikasi karena gue merasa tertarik sama “Public Speaking” tapi di awal kelas XII gue mengubah keputusan dan beranggapan kalau jurusan bahasa asing lah yang sebenernya cocok buat gue dan masa depan gue karena memang gue sangat amat mencintai bahasa asing. Nah, setelah yakin mau pilih jurusan apa, gue kembali dibuat bingung. Bahasa asing apa yang harus gue ambil? Bahasa Korea atau bahasa Inggris atau bahasa Jerman? Akhirnya setelah mikir plus minus-nya gue memutuskan untuk memilih jurusan Bahasa dan Sastra Inggris sebagai pilihan pertama dan Pendidikan Bahasa Korea sebagai pilihan kedua. Tapi ... bukan anak kelas XII namanya kalau nggak sering menghadapi kebimbangan yang nggak ada henti-hentinya. Setelah menyampaikan keinginan gue sama orang tua, respons mereka adalah:

Papa: “Kalau kamu suka bahasa asing, Papa sih nyaranin jurusan Hubungan Internasional, Mbak.”

Mama: “Ya ... Mama sih terserah Mbak Pina, kan kamu yang jalanin.”

Deg. Susah payah gue milih jurusan kuliah, susah payah gue memantapkan hati gue untuk milih dua jurusan itu, ternyata mereka malah nyaranin yang lain. Emang, sih, Papa gue cuma nyaranin, tapi gue sebagai anaknya sangat mengerti kalau itu lah yang beliau inginkan. Begitu juga dengan respons Mama. Gue merasa, ada sebuah jurusan yang sebenernya beliau harap, gue memilih jurusan tersebut. Tapi gue sadar, kalau masa depan gue itu ditentukan oleh gue sendiri, mau milih jurusan apa, mau jadi apa gue setelah lulus, mau gimana-gimana lainnya adalah keputusan gue, bukan keputusan orang tua gue apalagi orang lain. TAPI juga, gue nggak bisa langsung menjalankan keputusan tanpa persetujuan resmi orang tua, dong? Ya udah akhirnya gue mencoba untuk meluluhkan hati mereka. Dan alhamdulillah mereka mengiyakan dengan catetan gue harus bisa bertanggung jawab sama apa yang udah gue pilih.

Nah, setelah gue merasa lega dengan apa yang mereka putuskan, gue lagi-lagi dihantam oleh kegalauan yang super-super-super lah pokoknya. Oh, iya for your information, even gue udah merasa lega, gue tetep shalat tahajud dan istikharah untuk lebih meyakinkan hati gue bahwa apa yang gue pilih ini bener-bener yang terbaik untuk dunia dan akhirat gue. 

Waktu itu, gue lagi  “kencan” sama tugas akuntansi sambil buka-buka pesan WhatsApp. Lalu gue mendapat sebuah pesan dari guru ekonomi kelas X dan beliau menawarkan sekaligus mengajak untuk ikut olimpiade akuntansi tingkat nasional yang diadakan oleh sebuah universitas swasta di Cikarang. Mungkin, bagi temen-temen gue, hal tersebut bukanlah hal yang perlu dipikir panjang. Tapi bagi gue, kebalikannya. Karena pada saat itu juga, pikiran ini tiba-tiba aja terlintas di pikiran gue:

“Kok gue mau masuk ke jurusan bahasa asing tapi malah dideketin sama jurusan Akuntansi, ya?”

I didn’t know. Why did a question like that come to my innocent mind? Akhirnya lagi-lagi gue bingung, padahal gue cuma perlu menjawab, “Iya, Bu. Saya mau.” Atau, “Mohon maaf, Bu, saya nggak bisa. Lagi banyak aktivitas.” Tapi karena gue orang yang sangat sensitif, jadi lah gue suka take the things too serious. Orang yang nggak mau ribet tapi apa-apa suka dibuat ribet. Hem.

Akhirnya gue diskusi dulu ke orang tua gue dan ya pastinya mereka ngizinin, dengan alasan:

“Biar tambah banyak, Mbak, pengalamannya.”

Jadilah gue mengiyakan tawaran tersebut.

Nah, di proses belajar untuk olimpiade, gue masih bertanya-tanya kenapa gue ada di sini padahal ini keputusan gue sendiri untuk ikut olimpiade. Dalam benak gue, “Apa jurusan akuntansi itu petunjuk yang bener dari Allah? Atau tetep jurusan bahasa asing? Tapi kan gue nggak suka akuntansi and other stuffs like that. Gue sukanya bahasa asing.” “Ah, paling ini cuma kebetulan.” Pokoknya otak gue selalu berpikir kalau bahasa asing itu tetep petunjuknya, bukan akuntansi. Jujur ya, gue anti banget sama jurusan akuntansi, manajemen, ekonomi, politik, yang begitu-begitu, lah, yang kata orang bakal menghasilkan masa depan yang cerah alias dapet duit banyak. Tapi, kan gue nggak mau pilih jurusan kuliah just for the sake of money. Gue pengin pilih jurusan kuliah yang bener-bener bisa gue pertanggungjawabkan, yang tulus gue jalanin, yang gue enjoy kalau ada di jurusan itu. Urusan mau jadi apa setelah lulus ya gimana kreatifnya gue nyari peluang, ya nggak?

Balik lagi ke masalah olimpiade. Gue bilang ke Mama gue tentang hadiah-hadiah apa aja yang bakal didapet oleh si calon pemenang nanti. And as you guess (maybe?) Mama gue men­-support abis-abisan setelah mendengar penjelasan dari gue yaitu si pemenang nantinya bakal dapet full scholarship untuk juara 1, 75% untuk juara 2, dan 50% untuk juara 3, dan sejumlah uang untuk masing-masing pemenang. Hadiah se-wah itu pun nggak mampu membuat gue terpacu untuk ngincer predikat juara. Bukannya gue sombong dan nggak bersyukur. Gue hanya masih bimbang dan otak gue masih berusaha mencerna atas apa yang terjadi. Gue pun berterus terang pada Mama dan Papa kalau gue nggak terlalu excited mendengar hadiahnya karena beasiswanya pun pastinya hanya untuk jurusan Akuntansi dan gue nggak minat sama jurusan itu. Tapi, mereka membuat beribu-ribu pembelaan kalau jurusan akuntansi tuh begini dan begitu, kalau gue masuk jurusan akuntansi, gue bakal begini dan begitu. Katanya juga, belajar bahasa asing bisa ikut kursus yang penting ada basic di bidang akuntansi. Ah, pokoknya lieur. Gue sampe nangis-nangis saking nggak mau masuk jurusan Akuntansi. Shalat tahajud dan istikharah pun selalu dibumbui oleh air mata keluhan gue.

Jeng jeng. Kamis, 13 Oktober 2016 and it was my birthday, olimpiade akuntansi diadakan. Walaupun masih kalangkabut mikirin ini dan itu, gue tetep berusaha untuk mengerjakan soal sama tim gue dengan maksimal karena ya kalau dipikir-pikir kapan lagi gue ikut beginian dan gue juga harus profesional dalam menanggapi masalah.

Babak satu selesai. Gue nggak mengharapkan lolos ke 8 besar. Justru, gue mengira tim A (gue tim B) yang lolos ke 8 besar. Eh, tapi ... waktu pengumuman 8 besar, betapa kagetnya gue kalau tim gue lah yang lolos ke 8 besar! Gue kaget. Anggota tim gue yang lain pun sempet nggak percaya karena memang pas babak pertama ya kita bener-bener semampunya aja, dibilang yakin banget nggak, dibilang nggak yakin juga nggak, so-so lah. Tapi, di babak kedua, tim gue kalah.

Kami balik ke tempat duduk dan liason officer kami waktu itu menyemangati sekaligus berterima kasih karena udah berusaha semaksimal mungkin. Sambil menunggu sertifikat, gue sama yang lain menonton babak ketiga. Tapi, pikiran gue malah kemana-mana. Lambat laun, gue makin merasa jurusan akuntansi itu petunjuk sebenernya. Gue nggak tau, kenapa gue tiba-tiba merasa begitu tapi banyak banget kebetulan yang menurut gue nggak seperti kebetulan. Everything happens for a reason, right? Quote itu yang membuat gue berpikir kalau ada apa-apanya di balik semua ini.

Setelah balik dari olimpiade, gue merenung di kamar. Secara logika, gimana gue bisa tau bahkan merasa bahwa jurusan Akuntansi itu petunjuk sebenernya padahal gue nggak suka sama jurusannya? Gue mencoba untuk tetap tenang dan berusaha untuk senetral mungkin supaya nggak terkecoh. Di hari-hari selanjutnya pun, ternyata gue merasa adem-adem aja kalau ngerjain soal akuntansi, setiap ada kesulitan pasti langsung dapet pencerahan dan lama-lama ... gue beranggapan, “Wah, asyik juga, ya.”

Wow! Gue nggak salah bilang? Kenapa gue malah enjoy ngerjain akuntansi? Kenapa gue merasa nggak ada masalah kalau ngerjain soal akuntansi? Kenapa gue merasa semakin seru kalau ngerjain soal akuntansi? Dan akhirnya ... lambat laun gue sadar dan makin yakin kalau jurusan Akuntansi itu adalah petunjuk yang bener-bener dikasih Allah. Jurusan yang gue idam-idamkan, belum tentu yang terbaik buat gue. Jurusan yang gue sangat amat hindari pun belum tentu nggak baik buat gue. Siapa tau aja, gue menghindari jurusan Akuntansi karena gue cuma mau menghindari kesulitan, padahal semua jurusan punya tingkat kesulitan masing-masing.

Ketika gue menyadari semuanya, gue yakin kalau ternyata Allah membuat gue lambat laun menyukai Akuntansi dengan cara-Nya. Dengan cara-Nya pula, Ia membuat gue menyadari petunjuk-Nya. Dan Allah pun memberikan hadiah yang membuat gue bener-bener bersyukur, hadiah yang nggak bisa diganti oleh apapun. Yaitu, petunjuk dan keyakinan yang timbul di hati gue untuk memilih jurusan Akuntansi.

Setelah betul-betul yakin sama jurusan yang akan dipilih untuk SNMPTN (Akuntansi UPI dan Pendidikan Akuntansi UPI), gue mencoba untuk membenarkan apa yang Papa bilang:

“Kalau kamu nggak mau masuk Akuntansi karena kamu merasa teledor, gampang panik, nggak teliti, grasak-grasuk, itu semua bisa dilatih, Mbak. Justru kalau kamu di jurusan Akuntansi kamu bisa lambat laun mengurangi sifat-sifat itu.”

Di momen-momen nunggu pengumuman SNMPTN-pun gue biasa-biasa aja. Gue nggak terlalu berharap karena takut sakit hati. Gue juga banyak denger cerita, kalau orang yang nilai rapotnya bagus belum tentu keterima. Akhirnya gue mencoba menyibukkan diri dengan belajar buat SBMPTN. Tapi, tetep aja suka nggak fokus, suka nyerah sendiri, suka hopeless, apalagi kalau ngerjain Matdas. Akhirnya yang gue kerjain TPA doang.

Pengumuman SNMPTN tiba dan hasilnya ... HIJAU! Alhamdulillah banget. Sekalinya yakin sama petunjuk Allah, langsung dikasih hijau. Walaupun sebenernya masih banyak banget kekhawatiran gue terhadap ability gue dalam bidang ini. Tapi yang gue yakinin adalah jurusan ini yang terbaik, jurusan ini yang akan perlahan-lahan membentuk diri gue, jurusan ini yang akan membuat gue bener-bener merasakan hidup, dan jurusan ini pula yang akan memberikan pelajaran yang sangat amat berharga yang bahkan mungkin nggak bisa dirasain oleh orang lain.

To be continued. 

Comments

Popular posts from this blog

Review Jurusan Ilmu Komunikasi

Hallo, kembali lagi bersama gue, Pina. Remaja 16 tahun yang mencari jati diri tapi gak ketemu-ketemu. Jadi disini, gue bakal mereview jurusan Ilmu Komunikasi. Artikelnya cocok banget, nih, buat kelas 12 yang pengen banget masuk jurusan ini. Tau, gak? Jurusan ini banyak banget diminati! Tapi mungkin tidak di sekolah gue. Sampe sekarang gue gak tahu kenapa sedikiiit banget orang yang ngincer jurusan ini. Ya.. gue sih seneng-seneng aja ya, kan jadi dikit sainganya, HA! Paling-paling yang diminati itu ya FEB, Sasing, ya gitu dah. Seberapa terpencilnya sih jurusan ini? Eh iya, btw gak setiap universitas yang menjadikan Ilmu Komunikasi ini sebagai salah satu jurusan di FISIP. Tapi, ada yang menjadikannya sebagai fakultas. Yap, salah satunya UNPAD. Jadi namanya FIKOM. Dan ya.. FIKOM UNPAD emang favorit dari tahun ke tahun. Ampe minder gue daftarnya.  Nah, untuk kalian yang demen ngoceh, nulis, promosi, atau bahkan nonton film, mungkin jurusan ini adalah yang tepat untuk kalian.  J...

Rezeki Nggak Kemana

Seperti yang kalian (kelas XII) tau, kalau tanggal 26 April kemarin adalah (mungkin) masa di mana pertama kalinya kalian merasa deg-degan pake banget, panik, galau, apapun itu. Karena apa? Karena itu adalah penentu kalian akan melanjutkan studi ke mana dan karena itu pengumuman jalur pertama masuk PTN. Yap, we called it SNMPTN. Pukul 14:00 WIB semua orang sibuk mau membuka website pengumuman. Ada yang nggak sabaran makanya langsung buka web-nya, ada yang nunggu beberapa menit dulu karena tau pasti banyak yang buka (webnya), ada juga yang sengaja ngulur-ngulur waktu sampe sejam atau dua jam buat buka webnya. Contohnya gue, gue sengaja ngelakuin itu karena yang pertama, gue tau kalau server- nya bakalan down walaupun udah nunggu beberapa menit. Kedua, karena gue pengin ketawa dulu. Mungkin alasan yang kedua ini terdengar sangat konyol, tapi bagi gue ini penting supaya saat gue buka pengumuman, gue dalam keadaan senang no matter what happened . Alhamdulillah nya, ada beberapa temen yang...

Pelecehan yang Disepelekan

Hallo, semua! Udah lama banget, ya, gue nggak nge-blog. Alasannya ... klasik, sih. Males, nggak ada ide, dan nggak ada waktu (buat nge-blog), ya seperti itulah. By the way , kemarin-kemarin kan gue ngebahas tentang tips, review jurusan, sama cerita. Nah, untuk kali ini gue mencoba untuk beropini, nih. Tentang ... pelecehan! Berat, kan? Tumben-tumbenan gue bahas beginian. Terus terang, kejadian yang tadi sore (Kamis, 2 Februari 2017) gue alami membuat gue tergerak untuk nge-blog dengan tema ini. Karena, gue udah merasa sangat dongkol, keki, sebel, gedek sama hal yang satu ini, jadi gue mencoba untuk mengutarakan pendapat gue. So , silakan baca baik-baik, and here you go ! Sebelumnya, untuk kalian cewek-cewek, suka nggak sih merasa risih kalau kalian lewat dan di-suit-suit-in? I know that most of you, feel what I feel . Kalian tau nggak itu namanya apa? Cat-Calling ! “Hah? Panggilan kucing? Kucing panggilan?” Bukan. Cat-calling di sini bermakna konotasi, ya, teman-teman. Tapi, sebe...