Hai,
manteman! Udah baca yang part 1-nya, kan? Gimana? Semoga tulisan gue di blog
ini menjadi bahan pertimbangan buat kalian terutama kelas XII yang lagi bimbang
milih jurusan kuliah.
Setelah
kalian tau lika-liku gue dalam memilih jurusan kuliah, sekarang saatnya gue
menceritakan gimana rasanya menjadi maru alias mahasiswa baru di UPI jurusan
Akuntansi.
Jujur,
nih ya. Awal gue mendapat Kartu Rencana Studi dari pihak universitas, gue agak amazed sama mata kuliah yang akan gue
jalani nanti. Pengantar Ekonomi Mikro, Akuntansi Keuangan Dasar I, Pengantar
Manajemen, Aplikasi Komputer, Bahasa Inggris Bisnis, Bank dan Lembaga Keuangan
Lainnya, Pendidikan Bahasa Indonesia, dan Matematika Ekonomi. Nah, yang
terkahir itu yang membuat gue lagi-lagi meragukan kemampuan diri gue sendiri.
“Gue
sanggup nggak, ya?”
“Kalau
gue kalangkabut lagi gimana?”
“Kalau
ternyata nggak semulus yang gue bayangin gimana?”
“Kalau
nanti gue ngeluh terus gimana?”
“Kalau
otak gue nggak nyampe buat nerima materinya gimana?”
Iya,
pertanyaan-pertanyaan konyol kayak gitu sempat muncul di otak gue. Tapi, gue
kembali mengingat tujuan gue memilih jurusan akuntansi ini. Gue selalu meyakini
kalau petunjuk ini adalah yang terbaik karena langsung dikasih sama Allah.
Allah nggak akan kasih musibah di luar batas kemampuan gue sebagai hamba-Nya.
Kalau begitu, Allah aja mempercayai gue bisa menjadi mahasiswi di jurusan
akuntansi dengan baik, masa gue sendiri nggak percaya diri dan malah mempertanyakan
kemampuan diri sendiri? What a pity, Pina.
Akhirnya,
gue mencoba untuk nggak terlalu mikirin apa yang bakalan terjadi.
Tapi
ternyata ... apa yang gue takutkan bener-bener terjadi. Gue keteteran,
kalangkabut, bahkan sempet stress. Gue nggak tau penyebab pastinya apa. Tapi
waktu menjelang UTS, saat itu gue lagi disibukkan dengan kegiatan ospek jurusan.
Manajemen waktu selama kepengurusan OSIS di SMA yang gue pelajari dan terapin
ternyata nggak bisa sepenuhnya gue terapin di perkuliahan ini. Ditambah,
semangat belajar gue yang masih suka naik turun. Gue nggak menyalahkan kegiatan
ospek, apalagi tugas-tugas perkuliahan. Gue merasa, ini murni kesalahan gue.
Gue yang nggak bisa bagi waktu, gue yang nggak bisa tahan sama godaan setan
yang terkutuk, gue yang ternyata masih suka males-malesan padahal udah menjabat
status sebagai mahasiswi.
Pernah
di suatu kejadian, saat UTS mata kuliah Akuntansi Keuangan Dasar, gue
kalangkabut. Ada materi yang nggak gue pelajari, tapi keluar. Ngerjain soal
yang lainnya pun gue bingung. Pokoknya blank
banget lah waktu UTS itu. Padahal kalian inget, kan, waktu gue bilang di part
sebelumnya kalau saat ngerjain soal akuntansi gue lancar-lancar aja? Dan
padahal juga, materinya pun sama aja kayak SMA, cuma bedanya soal UTS gue itu
pake bahasa Inggris. Entah masalah waktu jadinya gue panik, terus jadi nge-blank apa gimana, gue nggak tau. Setelah
UTS, gue bener-bener kayak orang stress lah. Gue bahkan sampe iri sama orang
lain. Bukan iri masalah kemampuan akademik mereka, tapi iri kenapa mereka bisa
tetep santai dan ceria bahkan saat mereka mungkin lagi sama stressnya kayak
gue? Bahkan juga, bisa aja mereka nggak baperan alias nggak dibawa stress.
Selesai
UTS, gue balik ke kosan, shalat, dan ... nangis. Pokoknya segala unek-unek yang
ada di otak sama hati gue, gue keluarin, gue sampein ke Allah. Nggak tau lagi
deh, mata gue semerah apa. Gue ngabarin Mama dan Papa gue dan mereka menjawab:
“Ya
udah nggak apa-apa, lain kali harus lebih teliti, tetap tenang. Jangan
dijadikan beban, ya, Mbak.”
Gimana
gue nggak tambah sedih kalau mereka bilang gitu? Gue makin merasa bersalah.
Mereka udah capek-capek ngurusin gue, ngeluarin biaya yang nggak sedikit, tapi
gue malah ngecewain mereka.
Akhirnya
karena gue merasa nggak bisa terus-terusan kayak gini, gue mencoba tetep tenang
dan positive thinking kalau ini semua
adalah bagian dari proses ngilangin sifat buruk gue (yang pernah gue sebutin di
part sebelumnya) dan siapa tau aja Allah sengaja menyuruh gue untuk lebih giat
belajar lagi dengan cara-Nya.
Setelah
UTS matkul AKD, hari Rabu nya gue UTS matkul Pendidikan Bahasa Indonesia. Lagi
dan lagi, gue merasa nggak maksimal dalam mengerjakan soal UTS. Memang nggak
sekalangkabut matkul AKD, tapi gue bener-bener nyesel. Tapi yaudah lah ya, gue
udah capek buat terlalu mikirin hal yang nggak perlu dipikirin. Gue masih punya
banyak kesempatan buat memperbaiki semuanya. Kalau semuanya udah terjadi ya mau
digimanain lagi? Apapun hasilnya, lagi-lagi gue mencoba positive thinking kalau ini lah cara Allah menegur gue.
Hari
demi hari, setelah ospek jurusan lebih tepatnya pengkaderan awal selesai, gue
kembali disibukkan dengan aktivitas kepanitiaan event-event BEM jurusan gue. Mungkin kalian bertanya-tanya kenapa
gue tetep mengikuti kepanitiaan padahal tau kalau diri gue sendiri lagi
mengalami kesulitan manajemen waktu. Jawabannya adalah relasi dan pengalaman.
Gue nggak mau selama gue kuliah yang gue dapet cuma di bidang akadmeiknya aja,
Cuma hard skill-nya aja, tapi gue mau
mengimbangi dengan soft skill. Gue
pun sedikit-sedikit bisa mengembangkan lagi kemampuan manajemen waktu gue yang
udah kabur entah kemana. Seperti saat minggu-minggu UAS, gue ada jadwal rapat
sore jam 4 sedangkan gue baru nyicil materi sedikit, akhirnya gue inisiatif
dari kosan bawa buku paket dan akhirnya nyempet-nyempetin baca sebelum rapat
dimulai.
Nah,
setelah menghadapi UAS semester I kemarin, gue bener-bener merasa bersyukur.
Bukan karena nilai tapi proses yang gue lalui. Gue seneng dan bangga sama diri
gue sendiri karena gue bisa melalui UAS dengan lebih baik daripada waktu UTS.
Termasuk mata kuliah AKD I, Matematika Ekonomi, Bank dan Lembaga Keuangan
Lainnya, dan Pendidikan Bahasa Indonesia. Asli, gue bener-bener lega banget
sama proses yang gue lalui itu sampe-sampe gue sama sekali nggak mikirin hasil
karena udah bisa ngerjain soal dengan lebih baik aja gue udah bersyukur banget!
And for your information that it was my
very very first time I feel proud to be myself.
Beneran, baru kali itu gue bener-bener merasa menghargai diri gue
sendiri, menghargai kemampuan gue sendiri.
Tapi
sayangnya nih ... kelegaan gue itu nggak berlangsung lama karena gue memang
yakin ke depannya pasti bakal lebih berat, pasti bakal lebih banyak godaan
setan yang terkutuk.
Setelah
melalui wahana roller coaster di
semester I, gue kembali duduk di jok wahana yang sama dengan lika-liku yang
lebih-lebih dari semester I. And sorry, I
will not tell you in this part because it’s too looooong! So I will put the
story in the next part! Hope you will wait for it! Gue juga bakal cerita
gimana nanti gue akan melalui UAS yang gue nggak tau bakal kayak gimana, nggak
ada bayangan sama sekali. Jadi, part 3 nya inshaAllah akan mencakup keseluruhan
semester II dari awal sampe UAS. Mohon do’anya semoga lancar dan jika ada
hambatan gue bisa melaluinya dengan baik, ya. Aamiin, hehe. Sekali lagi terima
kasih sudah membaca dan semangat untuk kalian yang lagi melalui lika-liku di
bidang akademik maupun non-akademik. Intinya cuma satu, never
compare yourself to others because it just ruins your confidence, believe me,
you have tons of abilities and everyone has their own differentation in ability. Please, just
be grateful for what God has given to you and be grateful for who you are.
See u on the next part!
With love,
Pina.
Comments
Post a Comment