Skip to main content

Curhatan Seorang Maru Versi Gue Part 2: Ternyata ....

Hai, manteman! Udah baca yang part 1-nya, kan? Gimana? Semoga tulisan gue di blog ini menjadi bahan pertimbangan buat kalian terutama kelas XII yang lagi bimbang milih jurusan kuliah.
Setelah kalian tau lika-liku gue dalam memilih jurusan kuliah, sekarang saatnya gue menceritakan gimana rasanya menjadi maru alias mahasiswa baru di UPI jurusan Akuntansi.

Jujur, nih ya. Awal gue mendapat Kartu Rencana Studi dari pihak universitas, gue agak amazed sama mata kuliah yang akan gue jalani nanti. Pengantar Ekonomi Mikro, Akuntansi Keuangan Dasar I, Pengantar Manajemen, Aplikasi Komputer, Bahasa Inggris Bisnis, Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya, Pendidikan Bahasa Indonesia, dan Matematika Ekonomi. Nah, yang terkahir itu yang membuat gue lagi-lagi meragukan kemampuan diri gue sendiri.

“Gue sanggup nggak, ya?”

“Kalau gue kalangkabut lagi gimana?”

“Kalau ternyata nggak semulus yang gue bayangin gimana?”

“Kalau nanti gue ngeluh terus gimana?”

“Kalau otak gue nggak nyampe buat nerima materinya gimana?”

Iya, pertanyaan-pertanyaan konyol kayak gitu sempat muncul di otak gue. Tapi, gue kembali mengingat tujuan gue memilih jurusan akuntansi ini. Gue selalu meyakini kalau petunjuk ini adalah yang terbaik karena langsung dikasih sama Allah. Allah nggak akan kasih musibah di luar batas kemampuan gue sebagai hamba-Nya. Kalau begitu, Allah aja mempercayai gue bisa menjadi mahasiswi di jurusan akuntansi dengan baik, masa gue sendiri nggak percaya diri dan malah mempertanyakan kemampuan diri sendiri? What a pity, Pina. 

Akhirnya, gue mencoba untuk nggak terlalu mikirin apa yang bakalan terjadi.

Tapi ternyata ... apa yang gue takutkan bener-bener terjadi. Gue keteteran, kalangkabut, bahkan sempet stress. Gue nggak tau penyebab pastinya apa. Tapi waktu menjelang UTS, saat itu gue lagi disibukkan dengan kegiatan ospek jurusan. Manajemen waktu selama kepengurusan OSIS di SMA yang gue pelajari dan terapin ternyata nggak bisa sepenuhnya gue terapin di perkuliahan ini. Ditambah, semangat belajar gue yang masih suka naik turun. Gue nggak menyalahkan kegiatan ospek, apalagi tugas-tugas perkuliahan. Gue merasa, ini murni kesalahan gue. Gue yang nggak bisa bagi waktu, gue yang nggak bisa tahan sama godaan setan yang terkutuk, gue yang ternyata masih suka males-malesan padahal udah menjabat status sebagai mahasiswi.

Pernah di suatu kejadian, saat UTS mata kuliah Akuntansi Keuangan Dasar, gue kalangkabut. Ada materi yang nggak gue pelajari, tapi keluar. Ngerjain soal yang lainnya pun gue bingung. Pokoknya blank banget lah waktu UTS itu. Padahal kalian inget, kan, waktu gue bilang di part sebelumnya kalau saat ngerjain soal akuntansi gue lancar-lancar aja? Dan padahal juga, materinya pun sama aja kayak SMA, cuma bedanya soal UTS gue itu pake bahasa Inggris. Entah masalah waktu jadinya gue panik, terus jadi nge-blank apa gimana, gue nggak tau. Setelah UTS, gue bener-bener kayak orang stress lah. Gue bahkan sampe iri sama orang lain. Bukan iri masalah kemampuan akademik mereka, tapi iri kenapa mereka bisa tetep santai dan ceria bahkan saat mereka mungkin lagi sama stressnya kayak gue? Bahkan juga, bisa aja mereka nggak baperan alias nggak dibawa stress.

Selesai UTS, gue balik ke kosan, shalat, dan ... nangis. Pokoknya segala unek-unek yang ada di otak sama hati gue, gue keluarin, gue sampein ke Allah. Nggak tau lagi deh, mata gue semerah apa. Gue ngabarin Mama dan Papa gue dan mereka menjawab:

“Ya udah nggak apa-apa, lain kali harus lebih teliti, tetap tenang. Jangan dijadikan beban, ya, Mbak.”

Gimana gue nggak tambah sedih kalau mereka bilang gitu? Gue makin merasa bersalah. Mereka udah capek-capek ngurusin gue, ngeluarin biaya yang nggak sedikit, tapi gue malah ngecewain mereka.
Akhirnya karena gue merasa nggak bisa terus-terusan kayak gini, gue mencoba tetep tenang dan positive thinking kalau ini semua adalah bagian dari proses ngilangin sifat buruk gue (yang pernah gue sebutin di part sebelumnya) dan siapa tau aja Allah sengaja menyuruh gue untuk lebih giat belajar lagi dengan cara-Nya.

Setelah UTS matkul AKD, hari Rabu nya gue UTS matkul Pendidikan Bahasa Indonesia. Lagi dan lagi, gue merasa nggak maksimal dalam mengerjakan soal UTS. Memang nggak sekalangkabut matkul AKD, tapi gue bener-bener nyesel. Tapi yaudah lah ya, gue udah capek buat terlalu mikirin hal yang nggak perlu dipikirin. Gue masih punya banyak kesempatan buat memperbaiki semuanya. Kalau semuanya udah terjadi ya mau digimanain lagi? Apapun hasilnya, lagi-lagi gue mencoba positive thinking kalau ini lah cara Allah menegur gue.

Hari demi hari, setelah ospek jurusan lebih tepatnya pengkaderan awal selesai, gue kembali disibukkan dengan aktivitas kepanitiaan event-event BEM jurusan gue. Mungkin kalian bertanya-tanya kenapa gue tetep mengikuti kepanitiaan padahal tau kalau diri gue sendiri lagi mengalami kesulitan manajemen waktu. Jawabannya adalah relasi dan pengalaman. Gue nggak mau selama gue kuliah yang gue dapet cuma di bidang akadmeiknya aja, Cuma hard skill-nya aja, tapi gue mau mengimbangi dengan soft skill. Gue pun sedikit-sedikit bisa mengembangkan lagi kemampuan manajemen waktu gue yang udah kabur entah kemana. Seperti saat minggu-minggu UAS, gue ada jadwal rapat sore jam 4 sedangkan gue baru nyicil materi sedikit, akhirnya gue inisiatif dari kosan bawa buku paket dan akhirnya nyempet-nyempetin baca sebelum rapat dimulai.

Nah, setelah menghadapi UAS semester I kemarin, gue bener-bener merasa bersyukur. Bukan karena nilai tapi proses yang gue lalui. Gue seneng dan bangga sama diri gue sendiri karena gue bisa melalui UAS dengan lebih baik daripada waktu UTS. Termasuk mata kuliah AKD I, Matematika Ekonomi, Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya, dan Pendidikan Bahasa Indonesia. Asli, gue bener-bener lega banget sama proses yang gue lalui itu sampe-sampe gue sama sekali nggak mikirin hasil karena udah bisa ngerjain soal dengan lebih baik aja gue udah bersyukur banget! And for your information that it was my very very first time I feel proud to be myself.  Beneran, baru kali itu gue bener-bener merasa menghargai diri gue sendiri, menghargai kemampuan gue sendiri.

Tapi sayangnya nih ... kelegaan gue itu nggak berlangsung lama karena gue memang yakin ke depannya pasti bakal lebih berat, pasti bakal lebih banyak godaan setan yang terkutuk.

Setelah melalui wahana roller coaster di semester I, gue kembali duduk di jok wahana yang sama dengan lika-liku yang lebih-lebih dari semester I. And sorry, I will not tell you in this part because it’s too looooong! So I will put the story in the next part! Hope you will wait for it! Gue juga bakal cerita gimana nanti gue akan melalui UAS yang gue nggak tau bakal kayak gimana, nggak ada bayangan sama sekali. Jadi, part 3 nya inshaAllah akan mencakup keseluruhan semester II dari awal sampe UAS. Mohon do’anya semoga lancar dan jika ada hambatan gue bisa melaluinya dengan baik, ya. Aamiin, hehe. Sekali lagi terima kasih sudah membaca dan semangat untuk kalian yang lagi melalui lika-liku di bidang akademik maupun non-akademik. Intinya cuma satu, never compare yourself to others because it just ruins your confidence, believe me, you have tons of abilities and everyone has their own differentation in ability. Please, just be grateful for what God has given to you and be grateful for who you are.

See u on the next part!

With love,
Pina.




Comments

Popular posts from this blog

Review Jurusan Ilmu Komunikasi

Hallo, kembali lagi bersama gue, Pina. Remaja 16 tahun yang mencari jati diri tapi gak ketemu-ketemu. Jadi disini, gue bakal mereview jurusan Ilmu Komunikasi. Artikelnya cocok banget, nih, buat kelas 12 yang pengen banget masuk jurusan ini. Tau, gak? Jurusan ini banyak banget diminati! Tapi mungkin tidak di sekolah gue. Sampe sekarang gue gak tahu kenapa sedikiiit banget orang yang ngincer jurusan ini. Ya.. gue sih seneng-seneng aja ya, kan jadi dikit sainganya, HA! Paling-paling yang diminati itu ya FEB, Sasing, ya gitu dah. Seberapa terpencilnya sih jurusan ini? Eh iya, btw gak setiap universitas yang menjadikan Ilmu Komunikasi ini sebagai salah satu jurusan di FISIP. Tapi, ada yang menjadikannya sebagai fakultas. Yap, salah satunya UNPAD. Jadi namanya FIKOM. Dan ya.. FIKOM UNPAD emang favorit dari tahun ke tahun. Ampe minder gue daftarnya.  Nah, untuk kalian yang demen ngoceh, nulis, promosi, atau bahkan nonton film, mungkin jurusan ini adalah yang tepat untuk kalian.  J...

Rezeki Nggak Kemana

Seperti yang kalian (kelas XII) tau, kalau tanggal 26 April kemarin adalah (mungkin) masa di mana pertama kalinya kalian merasa deg-degan pake banget, panik, galau, apapun itu. Karena apa? Karena itu adalah penentu kalian akan melanjutkan studi ke mana dan karena itu pengumuman jalur pertama masuk PTN. Yap, we called it SNMPTN. Pukul 14:00 WIB semua orang sibuk mau membuka website pengumuman. Ada yang nggak sabaran makanya langsung buka web-nya, ada yang nunggu beberapa menit dulu karena tau pasti banyak yang buka (webnya), ada juga yang sengaja ngulur-ngulur waktu sampe sejam atau dua jam buat buka webnya. Contohnya gue, gue sengaja ngelakuin itu karena yang pertama, gue tau kalau server- nya bakalan down walaupun udah nunggu beberapa menit. Kedua, karena gue pengin ketawa dulu. Mungkin alasan yang kedua ini terdengar sangat konyol, tapi bagi gue ini penting supaya saat gue buka pengumuman, gue dalam keadaan senang no matter what happened . Alhamdulillah nya, ada beberapa temen yang...

Pelecehan yang Disepelekan

Hallo, semua! Udah lama banget, ya, gue nggak nge-blog. Alasannya ... klasik, sih. Males, nggak ada ide, dan nggak ada waktu (buat nge-blog), ya seperti itulah. By the way , kemarin-kemarin kan gue ngebahas tentang tips, review jurusan, sama cerita. Nah, untuk kali ini gue mencoba untuk beropini, nih. Tentang ... pelecehan! Berat, kan? Tumben-tumbenan gue bahas beginian. Terus terang, kejadian yang tadi sore (Kamis, 2 Februari 2017) gue alami membuat gue tergerak untuk nge-blog dengan tema ini. Karena, gue udah merasa sangat dongkol, keki, sebel, gedek sama hal yang satu ini, jadi gue mencoba untuk mengutarakan pendapat gue. So , silakan baca baik-baik, and here you go ! Sebelumnya, untuk kalian cewek-cewek, suka nggak sih merasa risih kalau kalian lewat dan di-suit-suit-in? I know that most of you, feel what I feel . Kalian tau nggak itu namanya apa? Cat-Calling ! “Hah? Panggilan kucing? Kucing panggilan?” Bukan. Cat-calling di sini bermakna konotasi, ya, teman-teman. Tapi, sebe...