Skip to main content

Bukan Masalah Umur tapi Kesiapan

Sebelumnya, gue mau ngasih tau, gue menulis ini bukan untuk mengatakan salah atau tidaknya, tapi ini pure opini dari persepektif diri gue sendiri, ya. Jadi jangan baper. By the way, kalau temanya keberatan maaf juga, ya. Mumpung seseorang ada yang ngingetin tentang masalah ini jadi gue pikir-pikir ya nggak ada salahnya juga gue utarain di blog.
sumber: google.com
So, here’s my opinion. Kalian pasti udah sering menemukan banyak pasangan yang menikah muda. Mungkin ada aja dari kalian yang bilang, “Ih masih kecil udah nikah aja. Kebelet, ya?” “Emang dia udah mapan?” dan lain sebagainya. Dan pasti kalian juga sering menemukan pasangan yang kata orang-orang, “telat nikah” apalagi untuk perempuan yang sering banget ditanyain soal nikah sama orang-orang. Mereka bilang, “Ih dasar perawan tua!” “Kok udah umur 26 belum nikah-nikah, sih?” “Nggak laku, ya?” dan lainnya. Padahal menurut gue, nikah itu bukan masalah umur, tapi masalah kesiapan. Mereka yang menikah muda, ya mungkin karena mereka merasa sudah siap dengan segala konsekuensinya dan jodoh dia datengnya cepet. Mereka yang belum menikah ya mungkin karena mereka belum siap atau emang jodohnya belum dateng. Seperti yang gue kutip dari orang lain, “If you’re ready for a lifetime commitment, then go ahead.”
“Terus, Pin, kalau perempuan nikahnya umur 30, nggak salah dong?” Ya nggak, lah. Kalau dia siapnya umur segitu dan jodohnya baru dateng umur segitu ya mau diapain? Nggak usah takut sama apa yang dibilang orang lain even itu orang tua lo. Karena, biasanya kan orang tua suka nggak sengaja nge-push anaknya untuk nikah (biasanya ya biasanya dan nggak semua orang tua) like, “Temen kamu udah nikah, kamu kapan?” “Nggak mau coba cari calon?” “Mama mau gendong cucu, nih.” Bukan gue bermaksud untuk nggak memikirkan apa kata orang tua, tapi yang literally understand yourself are only God and you. Lo pengennya apa, butuhnya apa, sukanya apa, nggak sukanya apa, ya Tuhan sama lo yang tau. Malah kadang, gue sendiri nggak tau gue itu gimana. Aneh, sih, Tapi ini yang gue rasain.
Nah, seperti yang gue bilang tadi. Karena kadang gue nggak tau tentang diri gue sendiri, ya gue memutuskan untuk mengenal diri gue secara detil dulu baru gue mengenal orang lain. Apalagi orang itu adalah yang literally stranger yang tiba-tiba dateng ke kehidupan gue, yang mengharuskan gue untuk berbagi kamar, berbagi waktu sama lain, dll. My friend said that kenali dirimu sendiri dulu sebelum kamu mengenal pasanganmu. Karena itu juga, sih, yang paling penting. Bagaimana lo mau mengerti orang lain sedangkan lo sendiri saja masih nggak mengerti diri lo sendiri. Lagian, gue merasa banyak hal yang bisa gue lakukan sebelum menikah, entah itu berkarir, berbisnis, travelling Indonesia or other country,  gue bisa nyari duit terus ditabung untuk masa depan gue dulu, atau apapun itu, lah. Yang jelas, yang gue yakini apa yang akan gue lakukan sebelum menikah itu akan menjadi bahan pelajaran untuk kehidupan after married gue. Nikah itu bukan cuma lo mesra-mesraan sama suami lo, haha hihi sama suami lo, tapi lebih dari itu. Lo harus siap sering-sering menghadapi pendapat yang bener-bener beda, karakter yang bener-bener beda, kebiasaan yang juga banyak bedanya, dll-nya yang mostly different dari diri lo sendiri.
Ada beberapa temen gue yang pengin nikah muda. Gue pun pernah pengin. Ngerasain cerita sampe ketawa-ketawa bareng doi, pegangan tangan sama laki-laki yang udah sah, gue kepo rasanya gimana. It’d be so cute, I thought. Tapi, lagi-lagi like what someone said that married isn’t just married. Terlebih, gue yang masih sering childish, gue yang masih sering gambling dalam menjalani hidup, tapi tiba-tiba dengan entengnya, gue bilang, “Kayaknya nikah muda seru!”. Sampe-sampe, gue membatasi diri gue untuk nikah di umur kalau nggak 23 atau 24. Tapi, setelah akhirnya gue pikir-pikir, ternyata gue nggak perlu untuk menargetkan sesuatu yang sebenarnya memang tidak perlu gue targetkan, salah satunya masalah nikah. Karena takutnya, yang ada pas gue udah umur 23 atau 24 dan belum menikah gue ngerasa insecure ke diri gue sendiri. Ditambah, kalau orang-orang di sekitar gue mulai mempertanyakan kapan nikah. Terus ujung-ujungnya permasalahan utama dalam hidup gue itu, “Pin, lo kapan nikah?” dan gue sama sekali nggak mau hal itu terjadi.
Pendapat gue selanjutnya adalah, gue merasa kebanyakkan orang-orang sekarang menjadikan kalimat “nikah itu ibadah” sebagai tameng. Memang, nikah itu ibadah. Tapi kan nikah bisa jadi wajib, sunnah, haram, makruh, dan mubah tergantung dari masing-masing individunya, Kalau lo lahir batin udah oke, dan lo punya hawa nafsu terhadap lawan jenis yang pengin lo salurkan ya lo diwajibkan nikah, daripada berbuat maksiat. Tapi, kalau lo merasa bisa nge-handle hawa nafsu lo, dalam artian lo nggak perlu khawatir akan terjerumus ya nikah menjadi sunnah. Tapi lagi-lagi orang lain itu kebanyakkan seolah-olah nikah itu jadi hal yang wajib yang harus lo lakukan di dunia. Padahal, jodoh itu pasti. Entah di dunia atau di akhirat, pasti kebagian, santai.
So, jangan khawatir tentang kapan nikah, ya, kawan! Inget kalimat yang tadi juga. Kenali dirimu dulu sebelum mengenal pasanganmu.
REMINDER! Tulisan ini gue buat bukan untuk mengatakan yang A salah dan yang B benar, ya. Ini perspektif gue.
Sekian.

Comments

Popular posts from this blog

Review Jurusan Ilmu Komunikasi

Hallo, kembali lagi bersama gue, Pina. Remaja 16 tahun yang mencari jati diri tapi gak ketemu-ketemu. Jadi disini, gue bakal mereview jurusan Ilmu Komunikasi. Artikelnya cocok banget, nih, buat kelas 12 yang pengen banget masuk jurusan ini. Tau, gak? Jurusan ini banyak banget diminati! Tapi mungkin tidak di sekolah gue. Sampe sekarang gue gak tahu kenapa sedikiiit banget orang yang ngincer jurusan ini. Ya.. gue sih seneng-seneng aja ya, kan jadi dikit sainganya, HA! Paling-paling yang diminati itu ya FEB, Sasing, ya gitu dah. Seberapa terpencilnya sih jurusan ini? Eh iya, btw gak setiap universitas yang menjadikan Ilmu Komunikasi ini sebagai salah satu jurusan di FISIP. Tapi, ada yang menjadikannya sebagai fakultas. Yap, salah satunya UNPAD. Jadi namanya FIKOM. Dan ya.. FIKOM UNPAD emang favorit dari tahun ke tahun. Ampe minder gue daftarnya.  Nah, untuk kalian yang demen ngoceh, nulis, promosi, atau bahkan nonton film, mungkin jurusan ini adalah yang tepat untuk kalian.  J...

Rezeki Nggak Kemana

Seperti yang kalian (kelas XII) tau, kalau tanggal 26 April kemarin adalah (mungkin) masa di mana pertama kalinya kalian merasa deg-degan pake banget, panik, galau, apapun itu. Karena apa? Karena itu adalah penentu kalian akan melanjutkan studi ke mana dan karena itu pengumuman jalur pertama masuk PTN. Yap, we called it SNMPTN. Pukul 14:00 WIB semua orang sibuk mau membuka website pengumuman. Ada yang nggak sabaran makanya langsung buka web-nya, ada yang nunggu beberapa menit dulu karena tau pasti banyak yang buka (webnya), ada juga yang sengaja ngulur-ngulur waktu sampe sejam atau dua jam buat buka webnya. Contohnya gue, gue sengaja ngelakuin itu karena yang pertama, gue tau kalau server- nya bakalan down walaupun udah nunggu beberapa menit. Kedua, karena gue pengin ketawa dulu. Mungkin alasan yang kedua ini terdengar sangat konyol, tapi bagi gue ini penting supaya saat gue buka pengumuman, gue dalam keadaan senang no matter what happened . Alhamdulillah nya, ada beberapa temen yang...

Pelecehan yang Disepelekan

Hallo, semua! Udah lama banget, ya, gue nggak nge-blog. Alasannya ... klasik, sih. Males, nggak ada ide, dan nggak ada waktu (buat nge-blog), ya seperti itulah. By the way , kemarin-kemarin kan gue ngebahas tentang tips, review jurusan, sama cerita. Nah, untuk kali ini gue mencoba untuk beropini, nih. Tentang ... pelecehan! Berat, kan? Tumben-tumbenan gue bahas beginian. Terus terang, kejadian yang tadi sore (Kamis, 2 Februari 2017) gue alami membuat gue tergerak untuk nge-blog dengan tema ini. Karena, gue udah merasa sangat dongkol, keki, sebel, gedek sama hal yang satu ini, jadi gue mencoba untuk mengutarakan pendapat gue. So , silakan baca baik-baik, and here you go ! Sebelumnya, untuk kalian cewek-cewek, suka nggak sih merasa risih kalau kalian lewat dan di-suit-suit-in? I know that most of you, feel what I feel . Kalian tau nggak itu namanya apa? Cat-Calling ! “Hah? Panggilan kucing? Kucing panggilan?” Bukan. Cat-calling di sini bermakna konotasi, ya, teman-teman. Tapi, sebe...